Postingan

Belajar dari Biennale Equator #5: Sekali Melihat, Dua Kali Memahami

Gambar
Potret salah satu karya dalam Pameran Biennale Equator #5: Do we live in the same playground? Biennale Jogja XV 2019 Equator #5 ‘Indonesia Bersama Asia Tenggara’. Membaca kalimat itu menunjukkan bahwa Biennale kali ini menggandeng negara-negara yang memiliki karakteristik sama—negara dunia ketiga. Kesan tersebut diperkuat dengan konsep ‘pinggiran’ yang ternyata memang diusung sebagai tema payung Biennale kali ini. Acara yang diselenggarakan dua tahunan ini seolah ingin menjelaskan secara implisit terkait isu-isu yang terjadi di Asia Tenggara. Mungkin, alasan digandengnya Asia Tenggara dalam Biennale Jogja ini seolah ingin menunjukkan bahwa yang namanya ‘pinggiran’ itu sangat lekat dengan Asia Tenggara. Lantas, mengapa Asia Tenggara? Apakah hanya Asia Tenggara saja yang dapat dikatakan sebagai ‘pinggiran’? Tentunya akan terdapat banyak jawaban variatif untuk menjawab pertanyaan ini. Mari kita melihat dari sudut pandang saya, kebanyakan negara-negara yang termasuk Asia Teng...

Multikulturalisme Pendidikan: Anti-bullying Sebagai Wacana Kosmpolitanisme

Konsep Kosmopolitanisme Kosmopolitanisme merupakan sebuah paham yang berasal dari bahasa Yunani, cosmos dan polites . Cosmos dapat diartikan sebagai universe , sementara polites memiliki arti citizen . Dengan demikian, arti dari kosmopolitanisme dari segi etimologi bahasa ialah paham yang meyakini bahwa kita sebagai manusia adalah citizen of universe atau warga dunia. Menurut Wardhani (2017), kosmopolitanisme adalah bagaimana kita dapat hidup bersama dan bagaimana kita dapat hidup dengan manusia lain. Paham ini pun mengarah pada identitas kita sebagai warga dunia yang mempunyai rasa tanggung jawab atas apa yang terjadi dengan manusia lain meski memiliki perbedaan status warga negara, ras, agama, dan lain-lain. Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Diogene de Sinope yang merupakan seorang filsuf dari Yunani yang lahir pada tahun 412 SM. Diogene mengungkapkan, “I am a citizen of the world”. Kemudian terdapat kaum stoic yang mengembangkan ide Diogene tentang kosmopolitanisme....