Postingan

Belajar dari Corona: Akankah Masyarakat Semakin Religius?

Gambar
Sumber Gambar:  https://www.suarasurabaya.net/ Penetapan corona virus sebagai buah ‘malapetaka’ dunia berhasil membawa rentetan implikasi yang lebih dari sekadar merusak kesehatan fisik manusia. Banyak media mewartakan buntut dari adanya penetapan virus sebagai sebuah pandemi ini sangatlah besar dan korelatif yang mampu mengubah wajah dunia. Berbagai aspek kehidupan manusia telah terjangkit krisis lantaran kemunculan virus ini. Munculnya krisis di berbagai bidang kehidupan negara-bangsa itu—termasuk kesehatan, ekonomi, sosial dan budaya—seakan memberi tanda bahwa dunia sedang mengalami masa terburuk di tahun gandanya, terkhusus bagi Indonesia. Pengalaman buruk yang sedang dihadapi oleh mayoritas negara-bangsa dunia ini dapat diasumsikan sebagai buah dari teguran untuk kembali mengingat memoar akan pentingnya menjaga ‘keseimbangan’ dalam satu masa kehidupan. Alih-alih melihat corona sebagai suatu hal yang menjengkelkan—pengagas problematik krisis kehidupan individu—saya lebih te...

Buntut Deklarasi Mala: Munculnya Spesies Anyar Bentukan Corona

Gambar
Foto tersebut merupakan salah satu instalasi seni Pameran Sepekan Arsitektur 2020 Penetapan Indonesia sebagai darurat corona agaknya menjadi ancaman permulaan dalam membuka gerbang kesakitan bagi masyarakat. Corona tak lagi hanya menyerang kesehatan fisik masyarakat, tetapi lebih kepada kesehatan mental mereka. Ditetapkannya Indonesia sebagai kawasan darurat corona mengakibatkan muncul banyak penamaan kebijakan pemerintah yang hanya membuat mumet saja. Mulai dari lockdown , karantina wilayah, social distancing , physical distancing, PSBB—semua dibentuk sebagai respons terhadap bencana ini. Banyaknya kebijakan yang bergonta-ganti agaknya memperkuat citra ketidakjelasan dan ketidaktegasan pemerintah dalam menangani si kecil yang menggemakan dunia. Pada akhirnya, masyarakat lah yang terus menjadi korban keruwetan kebijakan pemerintah. Masyarakat pun terus dibuat bingung dengan kebijakan-kebijakan yang diinisiasi oleh pemerintah ini. Bukannya menenangkan, tetapi malah semakin memper...

Hijab Tak Sekadar Perintah: Kontestasi Agama yang Terpolitisasi

Gambar
Source:  https://www.tagar.id/ Negara dan agama, agaknya menjadi dualitas krusial dalam pembentukan upaya politisasi cara hidup masyarakat dalam satu lingkup kepemerintahan. Relasi kuasa antar- stakeholders nyatanya memegang kunci terhadap pengendalian beragama tiap kelompok yang ada. Bagaimana individu berperilaku dan bertindak telah terpolitisasi secara struktur di bawah suatu kekuasaan. Memang, aturan tidak selalu dilegitimasi keabsahannya melalui regulasi hukum negara, tetapi ihwal tersebut umumnya terlegitimasi secara sosial—sehingga secara otomatis menjadi hukum sosial-moralis yang terus berkembang dan langgeng dalam satu internal komunitas, memberikan batasan inklusif dan eksklusif [1] . Agama tak ubahnya sebagai subjek kontestasi yang patut dikritisi dalam diskursus akademik, yang lebih luas dari sekadar belajar teologi. Semua agama di dunia memiliki doktrin aturannya masing-masing, termasuk Islam. Dalam konteks ulasan kali ini, saya ingin mengajak pembaca memiki...

Migrasi: ‘Tabu’ Perempuan dalam Lingkar Mobilitas Petungkriyono

Gambar
Mbah Slamet, ibu dari Pak Lurah Desa Tlogopakis   Pengrajin camping, pasangan suami istri Perempuan merupakan entitas yang penting dalam bermasyarakat. Melalui sosok inilah manusia satu per satu menampakkan kenaikan populasinya. Begitu besar peranan perempuan ini, tak luput dari konteks Petungkriyono. Meskipun demikian, ‘peran’ sebagai perempuan ini hanya sebatas sinonim dari apa yang disebut ‘kodrat’. Bagi masyarakat Petungkriyono sendiri, kodrat perempuan itu tidak jauh dari hasil peranakan sistem patriarkis yang masih eksis. Perempuan hanya dilahirkan untuk menjadi sebuah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan oleh dua laki-laki, yaitu oleh bapaknya jika belum menikah; suaminya jika sudah menikah. Dengan begitu secara tidak langsung melanggengkan batasan-batasan ruang gerak perempuan. Menjadi tanggung jawab berarti semua yang dilakukan perempuan Petungkriyono haruslah bertumpu pada izin siapa yang menjadi penanggungjawabnya. Bu Lasiyem, perjalanan ke ke...

Terbesitnya Sosial Protes dalam Satu Panggung Sandiwara

Gambar
A picture by: Atha Raditha, 23 September 2019; TBJT Surakarta The Three Lives of Antigone merupakan sebuah naskah drama milik Slavoj Zizek, yang untuk pertama kalinya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh kelompok Teater Terjal FIB UGM dengan judul Antigone: Trilogi Kematian Hasrat. Naskah ini menceritakan seorang tokoh bernama Antigone yang sangat setia kepada keluarga serta hukum paten dari para dewa. Juga Raja Creon—paman dari Antigone—yang sangat otoriter dan selalu mengatasnamakan kebaikan negara dalam membuat keputusan. Akan tetapi, ketika suatu masalah datang, lalu Antigone mencoba untuk menyuarakan pendapatnya akan permasalahan tersebut, malah mengakibatkan munculnya banyak malapetaka di Negeri Thebes. Permasalahan itu bermula ketika Antigone menginginkan saudaranya, Polyneices, yang sudah makar terhadap negara agar dimakamkan dengan semestinya. Namun, karena ia dianggap makar, Creon pun tidak ingin memberikan pemakaman yang layak. Ia hanya membiarkan jasad...